Biro Pers Samacara Adakan Public Lecture Series Pertama di STAHN Jawa Dwipa Klaten

Biro Pers Samacara Adakan Public Lecture Series Pertama di STAHN Jawa Dwipa Klaten

Klaten, Samacarapers — Biro Pers Samacara bekerja sama dengan Unit Kegiatan Mahasiswa Penalaran serta Program Studi Seni dan Budaya Keagamaan Hindu Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) Jawa Dwipa menyelenggarakan Public Lecture Series bertema “Pantang Melupakan Leluhur” pada 28 November 2025.

Kegiatan ini dilaksanakan secara luring dan daring dengan peserta yang berasal dari berbagai daerah, terdiri dari mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, serta masyarakat umum. Peserta luring mengikuti acara di Aula STAHN Jawa Dwipa Klaten, Jawa Tengah, sementara peserta daring bergabung melalui Zoom Meeting.

Sebelum memasuki sesi Public Lecture Series pertama, acara diawali dengan rangkaian pembukaan yang mencakup menyanyikan lagu Indonesia Raya, laporan Ketua Panitia, serta sambutan sekaligus pembukaan resmi oleh Ketua STAHN Jawa Dwipa yang diwakili oleh Wakil Ketua I Bidang Kemahasiswaan, Akademik, dan Hubungan Kemasyarakatan, Drs. I Nyoman Warta, M.Hum., melalui Zoom Meeting.

Dalam sambutannya, Warta mengajak para peserta untuk mengikuti kegiatan ini sebagai pengingat pentingnya menghormati dan tidak melupakan leluhur. “Sejatinya acara ini sangat mengingatkan kita kembali untuk tidak melupakan leluhur, atau pantang melupakan leluhur, apalagi jika kita melihatnya dari perspektif suku Sasak,” ujarnya.

Memasuki acara inti, Public Lecture Series dipandu oleh Nugroho Wisnu Wicaksono selaku moderator. Materi disampaikan oleh Dr. M. Rodinal Khair Khasri, S.Fil., M.Phil., dosen Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada.

Pada Public Lecture Series pertama ini, narasumber memaparkan materi bertajuk “Pantang Melupakan Leluhur Suku Sasak: Ruang dan Waktu.” Dalam penjelasannya, Odi menguraikan sejarah Pulau Lombok sebagai tempat tinggal suku Sasak serta hubungan budaya Lombok dengan Jawa dan Bali. Ia juga menyoroti perbedaan kultur antara Lombok Barat yang dipengaruhi budaya Jawa dan Bali, dan Lombok Timur yang lebih dipengaruhi budaya Makassar.

Odi turut menjelaskan makna istilah “Datu” di Lombok. “Datu ini pada mulanya memiliki fungsi sosial seperti raja. Mereka bukan tokoh grafis, tetapi lebih seperti figur ratu adil yang diyakini memiliki kesaktian,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa unsur-unsur mistis masih sangat kental dalam kehidupan masyarakat Lombok.

Setelah penyampaian materi, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang berlangsung secara luring dan daring. Dua penanya hadir secara langsung, sementara satu penanya menyampaikan pertanyaan melalui Zoom. Sesi ini kemudian ditutup dengan closing statement dari moderator.

Acara ditutup dengan penyerahan sertifikat dan merchandise oleh Kepala Bagian, Bibit Haryadi, S.Ag., M.MPd., kepada narasumber dan moderator, kemudian dilanjutkan dengan sesi foto bersama.

Penulis : Bayu Adi Suputro, Ida Setyawati

Dokumentasi: Cantika Sekar dan Gayatri Puspa

Penyunting: Dewi Kartika

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *