Kegiatan Serasehan Rembug Sastra Sesaji Jawa sukses diselenggarakan pada Jumat Kliwon, 26 Februari 2026, bertempat di situs suci Patirthan Umbul Geneng, Desa Ngrundul, Kebonarum, Klaten. Lokasi ini dipilih karena signifikansi historisnya sebagai bagian dari jaringan mata air kuno di Klaten yang diduga berasal dari abad 9 hingga 10 Masehi pada era Mataram Kuno . Bagi umat Hindu, Umbul Geneng merupakan salah satu dari tujuh sumber air suci (patirtan) yang digunakan untuk ritual penyucian diri atau melukat dan biasanya digunakan untuk upacara Melasti di Kab.Klaten.

Acara ini melibatkan civitas akademika STAHN Jawa Dwipa Klaten, yang secara resmi telah beralih status menjadi Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri pertama di Pulau Jawa berdasarkan Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 6 Tahun 2024. Kehadiran institusi ini sangat krusial bagi pengembangan pendidikan dan literasi budaya di Jawa Tengah, khususnya dalam melayani sekitar 0,61 persen umat Hindu dari total 1,27 juta penduduk Kabupaten Klaten. Melalui fungsi Tridharma Perguruan Tinggi, para akademisi melakukan kodifikasi sastra sesaji agar tetap relevan sebagai instrumen spiritual dan objek kajian ilmiah.
Salah satu topik utama serasehan adalah membedah filosofi tumpeng sebagai manifestasi yantra yang sarat makna. Secara etimologis, tumpeng merupakan akronim dari yen meTU kudu meMPENG (ketika keluar harus sungguh-sungguh bersemangat) atau tumapaking panguripan-tumindak lempeng-tumuju Pangeran (tata kehidupan yang berjalan lurus menuju Tuhan). Sebagai representasi arah mata angin, tumpeng mengadopsi konsep Dewata Nawa Sanga dengan simbolisme warna: nasi putih di timur (Dewa Iswara), merah di selatan (Dewa Brahma), kuning di barat (Mahadewa), dan hitam di utara (Dewa Wisnu).

Setiap komponen lauk-pauk pendamping tumpeng juga dianalisis sebagai simbol doa dan karakter manusia. Ayam ingkung melambangkan kepasrahan total (manembah), sayur urap diartikan sebagai urip (hidup) yang membawa keberkahan, telur rebus melambangkan pentingnya perencanaan, dan ikan teri menyimbolkan semangat gotong royong karena sifatnya yang hidup bergerombol . Secara fisik, bentuk kerucut tumpeng merupakan miniatur Gunung Mahameru atau Ardi Dewata, tempat suci bersemayamnya para dewa dalam kosmologi Hindu-Jawa .
Serasehan ditutup dengan diskusi mengenai prinsip Rembug Sastra yang berlandaskan sikap ngudi sejatining becik, yaitu berkomunikasi tanpa arogansi untuk mencari kebaikan bersama. Selain aspek sastra, kegiatan ini menekankan pentingnya ekoteologi, di mana menjaga kelestarian sendang dan sumber mata air dipandang sebagai bentuk nyata harmoni antara manusia dan alam. Sinergi antara masyarakat dan akademisi ini diharapkan mampu memperkuat jati diri bangsa serta menjaga kualitas mental spiritual melalui kearifan lokal masyarakat Klaten yang dikenal religius.