Tarian Sakral Hindu Jawa “Bedhaya Suci Laksita Murti”Ditetapkan Menjelang Nyepi Saka 1948

Tarian Sakral Hindu Jawa “Bedhaya Suci Laksita Murti”Ditetapkan Menjelang Nyepi Saka 1948

Penetapan Tari Bedhaya Suci Laksita Murti sebagai Tari Sakral Upacara Dewa Yadnya berlangsung di kawasan Candi Prambanan pada 18 Maret 2026, bertepatan dengan suasana menyambut Tahun Baru Saka 1948. Momen ini menjadi kebahagiaan tersendiri bagi umat Hindu di Jawa, karena tarian tersebut resmi ditetapkan secara nasional melalui sertifikat Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Nomor: 446/PH PHDI Pusat/III/2026. Penyerahan sertifikat dilaksanakan dalam rangkaian upacara Tawur Agung 2026 yang berlangsung di kompleks suci tersebut.

Ketua PHDI Pusat, Wisnu Bawa Tenaya, dalam sambutannya menyampaikan harapan agar Tari Bedhaya Suci Laksita Murti dapat menjadi bagian dari praktik keagamaan umat Hindu di Jawa. Ia menekankan bahwa tarian ini diharapkan menjadi tari sakral yang dapat dipentaskan dalam berbagai upacara suci di pura, seperti piodalan dan ritual keagamaan lainnya. Penetapan ini juga menjadi langkah penting dalam memperkuat identitas spiritual dan budaya Hindu Jawa.

Lebih lanjut, penetapan ini dipandang sebagai jawaban atas isu yang berkembang di masyarakat terkait fenomena “Balinisasi” Hindu di Jawa. Dengan diakuinya Tari Bedhaya Suci Laksita Murti sebagai tari sakral, Hindu Jawa kini memiliki representasi seni sakralnya sendiri yang berakar dari tradisi lokal. Penyerahan sertifikat dilakukan langsung oleh Ketua PHDI Pusat dan turut disaksikan oleh I Nengah Duija serta Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo.

Tari Laksita Murti merupakan tari sakral Jawa yang memiliki makna tentang ketulusan hati dan jalan (Laksita) untuk mencapai Tuhan (Murti) dengan durasi persembahan selama 15 menit. Tarian ini diciptakan oleh Dwi Novitasari, S.Sn dan telah ditarikan sejak tahun 2022 sebelum akhirnya mendapatkan pengakuan resmi dari PHDI Pusat. Pada pementasan dalam rangka Tawur Agung 2026, tarian ini dibawakan oleh sembilan penari, yang menampilkan keindahan gerak dan nilai spiritual khas tradisi Jawa.

Dokumentasi: Ida

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *