Hari Raya Pagerwesi, Membangun Benteng di Dalam Hati

Hari Raya Pagerwesi, Membangun Benteng di Dalam Hati

Hari Raya Pagerwesi sering disebut sebagai hari untuk “memagari diri”. Kata pager berarti pagar, sedangkan wesi berarti besi. Secara harfiah, Pagerwesi berarti pagar besi. Namun, makna sesungguhnya bukanlah pagar fisik yang terbuat dari baja atau beton, melainkan benteng terkuat yang ada di dalam hati dan pikiran manusia.

Saat melihat suasana persembahyangan Hari Raya Pagerwesi di Pura Widya Dharma, saya menyadari betapa pentingnya momen persembahyangan tersebut. Di tengah kehidupan yang semakin penuh tantangan, godaan, arus informasi yang tidak pernah berhenti, serta tekanan hidup yang terus datang, manusia membutuhkan benteng pertahanan dalam dirinya. Tanpa “pagar” yang kuat, hati dan pikiran akan mudah dipengaruhi oleh hal-hal negatif, seperti iri hati, dengki, amarah, keserakahan, dan kebodohan.

Pagerwesi mengajarkan kita untuk melakukan introspeksi diri. Seperti umat yang duduk tenang di pura sambil membaca doa dan merenung, kita pun diajak berhenti sejenak dari kesibukan hidup. Momen ini menjadi kesempatan untuk bertanya kepada diri sendiri, “Seberapa kuat iman dan akal budiku? Sudahkah aku mampu mengendalikan diriku sendiri?”

Menurut saya, makna terindah dari Pagerwesi adalah kesadaran bahwa musuh terbesar bukanlah orang lain, melainkan diri kita sendiri. Musuh itu hadir dalam bentuk sifat-sifat buruk yang sering kali kita abaikan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, melalui upacara Hari Raya Pagerwesi, umat memohon perlindungan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar terhindar dari berbagai bahaya, sekaligus memohon kekuatan agar mampu menjadi “pagar besi” bagi diri sendiri.

Ketika hati dan pikiran telah dipagari dengan kebijaksanaan dan kebaikan, maka apa pun yang datang dari luar—baik masalah, ujian, maupun godaan—tidak akan mudah meruntuhkan kita. Kita akan tetap berdiri teguh, tenang, dan bijaksana dalam menghadapi segala situasi.

Pagerwesi mengingatkan saya bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada apa yang dimiliki secara lahiriah, melainkan pada apa yang dibangun di dalam diri. Jadikan hari suci ini sebagai awal untuk memperkuat diri, menjaga lisan, serta memelihara hati agar tetap bersih dan kokoh seperti besi.

Penulis: Nia Latuwael
Dokumentasi: Nia Latuwael
Penyunting: Reffy Frizta Dianti

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *