Prosesi Piodalan Alit Pura Mitra Kencana Dewa: Wujud Bhakti Umat Hindu Tegal

Prosesi Piodalan Alit Pura Mitra Kencana Dewa: Wujud Bhakti Umat Hindu Tegal

Tegal – Ratusan umat Hindu di Kabupaten Tegal dengan khidmat melaksanakan upacara Piodalan Alit d Pura Mitra Kencana Dewa, Desa Dukuhwiring, Kecamatan Slawi, pada Jumat (1/5/2026). Upacara ini merupakan perayaan hari jadi Pura yang diselenggarakan secara sederhana, namun penuh makna, sebagai bentuk bhakti tulus kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Kegiatan piodalan dimulai pada pukul 17.30 WIB, di mana seluruh umat Hindu berbondong-bondong memadati Pura untuk mengikuti serangkaian upacara sacral. Piodalan tahun ini dilaksanakan dalam skala ‘Alit’ (kecil) mengingat pada tahun sebelumnya telah diselenggarakan piodalan ‘Madya’ (menengah). Meskipun demikian, kesakralan dan kekhusyukan tetap menjadi inti dari perayaan ini.

Serangkaian prosesi penting dalam Piodalan Alit meliputi:

  1. Penyucian diri : Tahap awal untuk memastikan seluruh umat dalam keadaan bersih dan suci sebelum melakukan persembahyangan dan terbebas dari hal-hal negatif.
  2. Mecaru: persembahan kepada Bhuta Kala, bertujuan untuk menjaga keseimbangan alam semesta, baik secara sekala (nyata) maupun niskala (tidak nyata).
  3. Byokala: upacara spiritual (niskala) yang menggunakan banten byokala, biasanya ditujukan bagi mereka yang akan terlibat langsung dalam upacara.
  4. Durmanggala: proses untuk menetralisir segala sesuatu yang bersifat buruk atau tidak suci yang berpotensi mengganggu kesakralan upacara.
  5. Prayascita: upacara penyucian untuk menetralkan kesalahan atau dosa (leteh), baik yang disadari maupun tidak, demi menjaga kesucian dan keharmonisan seluruh rangkaian piodalan.
  6. Menghadirkan Bhatara: Memohon kehadiran Ida Bhatara (manifestasi Tuhan) agar berstana di pura selama piodalan berlangsung dan menandai dimulainya upacara secara sacral.
  7. Murwadaksina: proses penyambutan dan penempatan Tuhan secara hormat dan suci.
  8. Ngantep Banten: Persembahan banten kepada Ida Bhatara yang telah ‘hadir’, sebagai wujud bhakti dan rasa syukur umat.
  9. Persembahyangan Tri Sandhya dilanjutkan Kramaning Sembah: puncak persembahyangan bersama yang dipimpin oleh Ki Mangku Sugiyono.
  10. Nginep/Menurunkan Pratima Daksina: Prosesi di mana Tuhan bersthana sementara untuk menerima bhakti umat.

Seluruh umat mengikuti jalannya upacara dengan penuh khidmat, tulus, dan ikhlas, sehingga seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan lancar dan aman tanpa hambatan.

Upacara piodalan ini berakhir pada pukul 21.00 WIB dan ditutup dengan puja parama santi bersama. Kegiatan ini menjadi bukti nyata keharmonisan dan kebersamaan umat Hindu di Kabupaten Tegal dalam menjaga tradisi serta nilai-nilai spiritual keagamaan (A/Praditya Ari Wibisono).

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *