KLATEN – Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) Jawa Dwipa Klaten memperingati hari jadi yang kedua. Peringatan ini dilakukan melalui Sidang Senat Terbuka yang digelar pada Sabtu, 11 Juli 2026. Bertempat di Aula STAHN Jawa Dwipa, Dies kali ini mengusung tema yang strategis “Akselerasi, Transformasi, dan Inovasi dalam Mewujudkan Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Jawa Dwipa yang Berdampak dan Berkelanjutan”

Pembukaan Prosesi sidang Senat dimulai pukul 08.30 WIB dengan iring-iringan pedel dan tamu VIP yang disambut oleh Tari Kebesaran STAHN Jawa Dwipa, Tari Bedhaya Siwagrha yang ditampilkan oleh beberapa mahasiswi. Rapat Senat Terbuka kemudian dibuka secara resmi oleh Drs. Sujaelanto, M.Pd.H, selaku Ketua Senat, menandai dimulainya agenda utama Dies Natalis.

Sebagai kampus yang masih berumur dua tahun, dalam laporan akademiknya, Ketua STAHN Jawa Dwipa, Prof. Dr. Drs. Ida Bagus Gede Candrawan, M.Ag., memaparkan bahwa institusi ini secara resmi berstatus negeri sejak diterbitkannya PMA No. 6 Tahun 2024 pada 13 Mei 2024. Meski baru berusia dua tahun, STAHN Jawa Dwipa sampai saat ini mengelola tiga jurusan utama: Dharma Acarya: Mencakup prodi Pendidikan Agama Hindu, PGSD, serta Pendidikan Seni dan Keagamaan Hindu. Dharma Duta: Meliputi prodi Ilmu Komunikasi dan Pariwisata Budaya. Ekonomi Artha Sastra: Dengan prodi Ekonomi Hindu.
Saat ini, kampus didukung oleh 131 mahasiswa aktif dengan kekuatan staf pengajar sebanyak 31 dosen (8 ASN, 23 Non-ASN) serta 17 tenaga kependidikan. Prof. Candrawan menekankan bahwa fokus utama saat ini adalah penataan organisasi dan sarana prasarana agar mampu bersaing dengan perguruan tinggi yang lebih mapan.

Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, dalam sambutannya memberikan apresiasi sekaligus beberapa catatan penting bagi pengembangan kampus ke depan. Misalnya dukungan Infrastruktur, terkait rencana hibah tanah untuk perluasan kampus, bupati meminta civitas akademika untuk bersabar karena adanya kebijakan efisiensi anggaran pemerintah daerah, namun ia memastikan hal tersebut tetap masuk dalam perencanaan strategis.
Di samping itu bupati menyoroti fenomena generasi muda yang terkadang lebih mengenal legenda Bandung Bondowoso daripada sejarah autentik Siwa Graha (Prambanan). Beliau menegaskan bahwa Klaten memiliki peran sentral dalam mempelopori Hindu di Jawa, dan STAHN harus menjadi garda terdepan dalam nguri-uri (melestarikan) kebudayaan tersebut. Beliau berharap kampus ini menjadi Laboratorium Moderasi Beragama, tempat menyemai persaudaraan antar umat dan menangkal radikalisme di Klaten. Dengan pembangunan infrastruktur jalan di jalur Jogja-Solo, Bupati melihat peluang besar bagi Klaten untuk berkembang di sektor pariwisata budaya dan pertanian.

Seiring dengan itu Dr. Trimo, S.Pd., M.Pd, dalam orasi ilmiahnya yang betajuk “Menghidupkan Mahabharata: Menyemai Karakter, Menjaga Peradaban”, menekankan bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada aspek kognitif (ngerti), tetapi harus mencapai ranah rasa dan batin (ngrasa) guna melahirkan empati dan kebijaksanaan. Ia memaparkan bagaimana 18 Parwa dalam Mahabharata sebenarnya adalah kurikulum kehidupan yang sistematis untuk membentuk karakter manusia, mulai dari integritas (Adi Parwa) hingga kebijaksanaan (Svargarohana Parwa). Integrasi antara nilai Hindu (Tri Kaya Parisudha) dan falsafah Jawa (olah rasa, olah batin, olah laku) disebutnya sebagai kunci pendidikan karakter yang relevan dengan tantangan zaman.
Acara diakhiri dengan prosesi simbolis pemotongan tumpeng oleh Prof. Candrawan bersama beberapa tamu undangan yang hadir, sebagai bentuk syukur atas perjalanan dua tahun ini. Dengan selesainya Rapat Senat Terbuka yang diiringi Mars STAHN Jawa Dwipa, STAHN Japa kembali ingin memperkuat visinya untuk menjadi pusat kajian dan pendidikan karakter berbasis kearifan Nusantara (/Ling).