Satu, Banyak, atau Semuanya? Menilik Paradoks Ketuhanan dalam Teologi Hindu

Satu, Banyak, atau Semuanya? Menilik Paradoks Ketuhanan dalam Teologi Hindu

Pemahaman masyarakat umum mengenai teologi Hindu sering kali terhenti pada narasi mitologi populer, khususnya penempatan konsep Trimurti (Brahma, Wisnu, dan Siwa) sebagai puncak kekuasaan spiritual tertinggi. Namun, jika dibedah secara mendalam melalui pendekatan filosofis teks-teks Upanishad, Hinduisme justru menawarkan sebuah fondasi monisme radikal yang meleburkan seluruh batas perbedaan di alam semesta, menyatukan entitas hidup maupun materi ke dalam satu kesatuan kosmis utuh.

Paradoks teologis inilah yang menjadi fokus utama dalam kelas diskusi keagamaan terbaru bertajuk “Satu, Banyak, atau Semuanya? Paradoks Tuhan dalam Tradisi Hindu” yang diselenggarakan secara daring oleh Odyssey Centre for Philosophy berkolaborasi dengan BPMH Samacara, (Senin 15/06/2026). Kuliah umum yang dipandu oleh Dr. Ravinjay Kuckreja dari Center for Dharmic Studies (CDS) tersebut menegaskan bahwa dunia nyata (Jagat) beserta seluruh isinya termasuk dewa, manusia, hewan, hantu, hingga objek-objek material sesungguhnya berada di dalam satu sistem tunggal yang mutlak. Realitas objektif tersebut merujuk pada esensi diktum suci Weda, yakni Sarwam Kalwidam Brahma, yang mendeklarasikan bahwa segala hal yang eksis sesungguhnya adalah Brahman.

Dialektika Dua Sudut Pandang: Kesadaran Monisme dan Kotak Dualisme

Berdasarkan kompilasi materi kosmologi yang dipaparkan, teologi Hindu berdiri di atas dialektika antara dua cara pandang fundamental. Pertama adalah Perspektif Ketuhanan (Monisme), sebuah sudut pandang transendental di mana seluruh jagat raya dipandang sebagai satu tubuh kosmis atau makhluk yang maha besar. Di dalam kacamata monistik ini, tidak ada fragmentasi; semua eksistensi memiliki kedudukan yang setara, sama, dan tidak terpisahkan.

Sebaliknya, sudut pandang kedua adalah Perspektif Kemanusiaan (Dualisme). Cara pandang inilah yang digunakan oleh aparatus kognitif atau pikiran manusiawi untuk membedah dan mengotak-ngotakkan realitas ke dalam berbagai dikotomi. Melalui pikiran dualistik ini, manusia sibuk memetakan perbedaan konseptual: memisahkan gender laki-laki dan perempuan, mengelompokkan strata makhluk hidup (dari dewa hingga alam neraka), serta membedakan jiwa yang hidup (Purusha) dari materi mati (Prakriti).

Untuk menjembatani pertanyaan mengenai bagaimana benda mati bisa muncul dari Tuhan yang Maha Hidup, teks Upanishad menghadirkan analogi biologis yang sangat alamiah. Benda-benda material seperti indra mata, telinga, elemen api, air, dan tanah diibaratkan sebagai bulu atau rambut yang tumbuh di badan manusia. Meskipun rambut secara struktural merupakan benda mati, ia lahir, melekat, dan berkembang secara alami dari tubuh makhluk yang hidup. Dengan demikian, materialitas duniawi tetap merupakan ekspresi lahiriah paling luar dari Kesadaran Murni (Caitanya) milik Brahman.

Demitologisasi Trimurti: Sistem Jabatan Struktural Kosmis

Salah satu poin teologis paling krusial yang diluruskan adalah posisi dewa-dewa Trimurti. Di dalam struktur teologi Hindu yang mendalam, Brahma, Wisnu, dan Siwa bukanlah entitas absolut tertinggi. Alih-alih bersifat mutlak, posisi Trimurti lebih tepat dianalogikan sebagai “jabatan struktural eksekutif” (seperti jajaran menteri atau dewan direksi perusahaan) yang bertugas mengelola tata laksana sistem alam semesta (Brahmanda). Karena konsep kosmologi Hindu menetapkan jumlah alam semesta yang tidak terhingga, maka di setiap alam semesta terdapat jajaran struktural Brahma, Wisnu, dan Siwa tersendiri yang menggerakkan roda kosmis penciptaan, pemeliharaan, dan peleburan.

Otoritas tertinggi ketuhanan dikembalikan secara penuh pada doktrin teologis masing-masing denominasi (aliran) besar, di mana posisi Trimurti menyesuaikan sistem bakti umatnya:

  • Shaivism (Siwaisme): Puncak ketuhanan tertinggi adalah Siwatatwa atau Sadasiwa yang berekspansi ke dalam lima rupa PaƱca Brahma (Sadyojata, Aghora, Isana, Wamadewa, Tatpurusha). Trimurti bertindak sebagai jabatan fungsional di bawah kekuasaan-Nya.
  • Saktism (Saktisme): Melihat Tuhan sebagai energi aktif feminin (Saktitatwa) atau Ibu Semesta (Durga) yang berekspansi menjadi Saraswati, Laksmi, dan Parwati. Tiga sosok dewa Trimurti tunduk di bawah kuasa Sakti.
  • Vaishnavism (Waisnavisme): Tuhan Yang Maha Esa (Wisnutatwa) mengelola kosmos melalui manifestasi sistem Catur-Wyuha (Wasudewa, Sankarshana, Aniruddha, Pradyumna). Trimurti sehakikat dengan Narayana.
  •  Smartism (Smarta): Memandang sosok dewa Trimurti sebagai Ishvara, yaitu perwujudan personal yang berwujud (Saguna) dari kesadaran Brahman yang sejatinya tanpa wujud (Nirguna).

Untuk menghindari bias personifikasi atau kultus figur dewa populer tertentu pada masa pembentukannya, kitab Upanishad memilih istilah-istilah teologis yang sangat netral dalam memetakan realitas: Atman untuk segala esensi yang hidup (jiwa), Jagat untuk dunia material, Ishvara sebagai personifikasi Tuhan dalam fungsi pengendali kosmis, serta Brahman sebagai realitas tertinggi yang absolut.

Pembahasan teologis ini ditutup dengan sebuah refleksi sosial yang tajam mengenai perilaku ego manusiawi. Konflik sektarian, gesekan antarkelompok, hingga fanatisme dalam membedakan “Tuhan A vs Tuhan B” atau “Agama A vs Agama B”, pada hakikatnya dinilai tidak berbeda dengan hiruk-pikuk kedangkalan pikiran manusia dalam meributkan preferensi harian seperti perdebatan mengenai tata cara makan bubur yang diaduk versus tidak diaduk, atau pemisahan selera antara rasa manis dan pedas.

Segala bentuk sekat pemisah muncul semata-mata akibat kesibukan pikiran manusia yang terjebak dalam belenggu kategorisasi, yakni pengejaran terhadap apa yang disukai dan penolakan terhadap apa yang dibenci (likes and dislikes). Sebaliknya, dari perspektif ketuhanan monistik, seluruh fenomena ketidakstabilan alam semesta ini lebur dalam kesetaraan universal. Ketika pikiran manusia mampu menyelaraskan dualismenya dengan sudut pandang monisme Tuhan, maka lenyaplah batas-batas ilusif tersebut, menyisakan kesadaran utuh bahwa semua makhluk adalah bagian dari satu tubuh kosmis yang sama.

Penulis: Atmajanu Widiya

Penyunting: Ida Setyawati

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *