Yogyakarta – Tim Penerimaan Mahasiswa Baru Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) Jawa Dwipa menggelar sosialisasi bertajuk “Pentingnya Pendidikan Tinggi bagi Generasi Hindu” di Pura Bhakti Widhi, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Minggu (10/5/2026).

Kegiatan ini dihadiri oleh beragam elemen umat Hindu, mulai dari siswa Pasraman dan Adi Widyalaya, guru agama Hindu, perwakilan pemuda Hindu Gunungkidul tingkat sekolah menengah, hingga alumni STAHN Jawa Dwipa. Hadir pula dua tokoh pengambil kebijakan umat Hindu di DIY, yakni Pembimas Hindu DIY, Didik Widya Putra, dan Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Purwanto.


Sosialisasi yang sekaligus memperkenalkan program Penerimaan Mahasiswa Baru STAHN Jawa Dwipa ini wakili oleh Sujaelanto selaku Ketua Jurusan Dharma Duta dan Suherman selaku Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi. Turut hadir pula sejumlah dosen, di antaranya Gatot Wibowo dan Putu Pradnya Lingga.
Pembimas Hindu DIY, Didik Widya Putra, menegaskan pentingnya penguatan sradha dan bhakti melalui pendidikan. Ia mendorong STAHN Jawa Dwipa—sebagai satu-satunya kampus Hindu negeri di Pulau Jawa—untuk merancang strategi khusus dalam membentuk karakter generasi Hindu yang unggul. Hal ini menjadi semakin mendesak mengingat masih adanya kekurangan tenaga pendidik di Adi Widyalaya Gautama, Ngawen, Gunungkidul.
“Kita masih sangat memerlukan lulusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar untuk Adi Widyalaya yang sudah kami resmikan. Saya menyarankan agar calon mahasiswa mengambil jurusan PGSD di STAHN Jawa Dwipa.”— Didik Widya Putra, Pembimas Hindu DIY
Ketua PHDI Purwanto senada menekankan bahwa potensi sumber daya manusia di Gunungkidul perlu diimbangi dengan strategi pendidikan yang tepat agar dapat berkontribusi lebih luas. Ia memandang keberadaan Adi Widyalaya dan STAHN Jawa Dwipa sebagai tawaran yang sangat strategis bagi pemuda Hindu Gunungkidul untuk membuka ruang berkarya.
Merespons hal itu, Sujaelanto mengajak masyarakat Gunungkidul untuk meraih cita-cita dengan melanjutkan studi ke STAHN Jawa Dwipa. Menurutnya, STAHN tidak hanya menawarkan pendidikan berbasis agama, tetapi juga berbagai disiplin ilmu lainnya—termasuk program studi yang terbuka bagi calon mahasiswa non-Hindu dalam suasana perkuliahan yang inklusif.

“Di saat seperti ini, STAHN diharapkan bisa menjadi alternatif solusi bagi permasalahan umat dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang berkualitas.”— Sujaelanto, Ketua Jurusan Dharma Duta STAHN Jawa Dwipa
Suherman selaku Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi menambahkan bahwa STAHN Jawa Dwipa juga menyediakan beragam kegiatan kemahasiswaan yang menarik. Ia turut mendorong calon mahasiswa untuk memanfaatkan berbagai skema bantuan pendidikan dari pemerintah, seperti beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Beasiswa Prestasi.

Dengan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang terjangkau dan komitmen inklusivitasnya, STAHN Jawa Dwipa menjadi wujud nyata komitmen Kementerian Agama melalui Ditjen Bimas Hindu dalam meningkatkan kualitas pemikiran dan peradaban umat Hindu Indonesia melalui pendidikan yang berkualitas dan dapat dijangkau seluruh lapisan masyarakat.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, Pembimas Hindu DIY turut melaksanakan program literasi sastra keagamaan dengan membagikan kitab Bhagavad Gita dan Sarasamuccaya kepada seluruh anak pasraman yang hadir. Pembagian kitab suci ini merupakan bagian dari program Pembimas Hindu Yogyakarta dalam mendorong budaya membaca dan pendalaman literatur keagamaan Hindu sejak dini di kalangan generasi muda (/Ling).