MALANG — Suasana khusyuk dan penuh kedamaian menyelimuti Pura Indrakila, Wagir, Kabupaten Malang, pada Sabtu (01/08/2026). Ratusan umat berkumpul untuk memperingati Piodalan, sebuah upacara keagamaan sakral yang ditujukan untuk memperingati hari kelahiran atau berdirinya tempat suci tersebut. Tak lupa pada upacara piodalan ini dihadiri oleh para tokoh-tokoh umat Hindu dan masyarakat lintas Agama. Di antara serangkaian ritual yang sarat makna spiritual, sesi Dharma Wacana menjadi salah satu momen pencerahan yang paling dinantikan oleh para pamedek.

Dharma Wacana merupakan bagian penting dalam tradisi Hindu, di mana seorang narasumber menyampaikan pesan-pesan suci dan tuntunan hidup yang bersumber dari kitab suci Weda. Pada perayaan Piodalan kali ini, materi utama yang diangkat mengusung tema bernuansa filosofi mendalam, yakni “Weninging Ati Sarono Nggayuh Karahayon”—yang bermakna heningnya hati sebagai sarana meraih keselamatan dan kebahagiaan sejati.
Hadir sebagai narasumber utama, Putri Stevia Gestiana membawakan materi tersebut dengan lugas, hangat, dan menyentuh sanubari. Kehadiran beliau berhasil menarik perhatian seluruh hadirin yang datang dari berbagai lintas agama mulai dari para tokoh umat, pemuda, hingga anak-anak. Acara ini tidak hanya diikuti oleh umat Hindu internal Pura Indrakila pada khususnya, tetapi juga mendapat sambutan hangat serta partisipasi aktif dari masyarakat Wagir pada umumnya.
Dalam pemaparannya, Stevia menekankan betapa pentingnya menjaga ketenangan jiwa di tengah dinamika kehidupan modern yang penuh dengan riak ujian. Ketenangan hati bukanlah bentuk pelarian, melainkan fondasi utama untuk mencapai keharmonisan hidup.
Menegaskan pesan moral dari ajaran Weda tersebut, Duta Dharma yang turut memberikan pesan dalam kesempatan ini menyampaikan sebuah perenungan mendalam:
“Heningnya hati yang mengantarkan pada kebahagiaan adalah bukan karena dia kosong atau sepi, tapi karena dia penuh dan utuh. Penuh dengan kesadaran dan keyakinan.”
Pesan tersebut menjadi benang merah dari keseluruhan rangkaian Dharma Wacana. Umat diajak untuk memahami bahwa keheningan jiwa tidak identik dengan kekosongan, melainkan kondisi di mana pikiran dan perasaan telah terisi penuh oleh kesadaran spiritual serta keyakinan yang teguh kepada Sang Hyang Widhi Wasa.
Pelaksanaan Piodalan yang dipadukan dengan Dharma Wacana ini berjalan dengan lancar, tertib, dan penuh rasa kekeluargaan. Antusiasme masyarakat Wagir beserta umat Hindu Pura Indrakila memperlihatkan bahwa kegiatan keagamaan mampu menjadi perekat sosial sekaligus sarana pembinaan moral masyarakat.
Melalui momen Piodalan ini, diharapkan pesan keheningan hati yang telah disampaikan dapat diresapi dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kedamaian tidak hanya tercipta di dalam area pura, tetapi juga memancar dalam kehidupan bermasyarakat.
