Jejak 53 Tahun Pura Pita Maha, Benteng Spiritual Umat Hindu di Klaten

Jejak 53 Tahun Pura Pita Maha, Benteng Spiritual Umat Hindu di Klaten

Pura Pita Maha yang berlokasi di Desa Karanganom, Kecamatan Klaten Utara, Kabupaten Klaten, menggelar upacara Piodalan ke-53 pada Senin (19/10/2026). Perayaan ini menjadi momentum spiritual yang memperkuat peran pura sebagai pusat peribadatan sekaligus pemersatu umat Hindu di wilayah Klaten dan sekitarnya.

Rangkaian prosesi persembahyangan dipimpin langsung oleh Jero Gede Dwija Purwadi. Ritual diawali dengan tradisi nunas tirta sebagai simbol penyucian diri, dilanjutkan dengan pradaksina, mecaru, persembahan Tari Gambyong, serta persembahyangan bersama. Alunan kidung suci yang dilantunkan para umat mengiringi setiap tahapan prosesi piodalan. Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari akademisi muda melalui partisipasi aktif mahasiswa STAHN Jawa Dwipa Klaten.

Usai persembahyangan, acara berlanjut ke sesi formal dan ramah tamah yang dibuka dengan pembacaan sloka suci oleh dua pemuda pura, Banyu dan Naya. Penyangga Pura Pita Maha, Harianto, menyampaikan rasa syukur atas perjalanan 53 tahun rumah ibadah tersebut serta memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang berkontribusi menjaga kelancaran upacara.

Agenda dilanjutkan dengan sesi dharmawacana bertema “Merawat Pura, Merawat Keyakinan” yang disampaikan oleh Dharma Duta, Putri Stevia Gestianan. Dalam pemaparannya, Stevi menguraikan makna filosofis di balik nama Pura Pita Maha.

“Pita berarti ayah dan Maha berarti besar. Di tempat inilah kita memohon kepada Sang Ayah Alam Semesta. Atas dasar sradha dan bhakti yang dilandasi ketulusan serta keikhlasan, Hyang Widhi Wasa pasti hadir merestui,” ujar Srikandi Hindu yang kerap dipanggil Stevi.

Ia menekankan bahwa ajaran Sanatana Dharma bersifat abadi. Oleh karena itu, merawat pura tidak sekadar menjaga kebersihan fisik bangunan, melainkan menghidupkan suasana spiritual melalui doa dan ibadah yang konsisten. Stevi juga mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi generasi muda agar tetap teguh berjalan di atas jalur Dharma.

Rangkaian Piodalan ditutup dengan tradisi makan prasadam bersama, yang mempererat keharmonisan dan rasa kebersamaan antarumat.

penulis: Saraswati puji lestari
editor: Atmajanu widiya
dokumentasi: Yuniati Risa Ningrum

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *